ROKAN HULU,- Program ketahanan pangan melalui budidaya ikan lele di Desa Koto Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, mulai menunjukkan hasil. Panen perdana ikan lele yang dilaksanakan pada Rabu (7/10/2026) mencapai sekitar 150 kilogram dari sekitar 5.000 ekor bibit yang sebelumnya dibudidayakan.
Kegiatan panen tersebut dihadiri camat tandun Feriadi S,IP M,SI Penjabat (Pj) Kepala Desa Koto Tandun Aly Yusuf, S.Sos., M.IP, Direktur BUMDes Nora Soraya,BPD Koto tandun
Korcam PD Neneng Iswani, A.Md, Pendamping lokal Desa (PLD) Saputra Rambah, S.Pd, Ketua Karang Taruna M. Fadli Amanda, Bhabinkamtibmas Brigpol Indra Pratama, Babinsa Koramil 08/Tandun Koptu Mulyo Sabdo, serta jajaran pengurus kepemudaan Desa Koto Tandun.
Ketua Karang Taruna Desa Koto Tandun, M. Fadli Amanda, yang sekaligus menjadi pengelola kolam budidaya ikan program ketahanan pangan, mengatakan hasil panen kali ini mencapai sekitar 150 kilogram.
Menurut Fadli, sebagian hasil panen akan diperuntukkan bagi masyarakat Desa Koto Tandun, sementara sebagian lainnya dijual kepada pengepul.

“Dari hasil panen hari ini sekitar 150 kilogram. Sebanyak 20 kilogram akan didistribusikan kepada masyarakat, sedangkan sekitar 130 kilogram dijual kepada pengepul,” ujar Fadli.
Untuk harga, ikan lele yang diperuntukkan bagi masyarakat dibanderol sekitar Rp25.000 per kilogram, sedangkan harga untuk pembelian dalam jumlah besar oleh pengepul sekitar Rp20.000 per kilogram.
Fadli menjelaskan, ikan yang telah dipanen rata-rata memiliki berat sekitar dua ons per ekor. Namun, proses pemanenan masih disertai penyortiran karena ukuran ikan belum seluruhnya seragam.
“Budidaya ini sudah berjalan sekitar dua bulan dua minggu. Karena ukuran ikan belum semuanya sama, maka dilakukan penyortiran,” jelasnya.
Dana Ketahanan Pangan dan Skema Bagi Hasil
Direktur BUMDes Desa Koto Tandun, Nora Soraya, menjelaskan kegiatan budidaya ikan tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa.

Ia menyebutkan, anggaran ketahanan pangan tahun 2025 dialokasikan sebesar 20 persen dari Dana Desa, dengan nilai yang disebut mencapai sekitar Rp193.297.000.
Dalam pengelolaannya, hasil usaha menggunakan pola pembagian 70:30. Sebanyak 70 persen diperuntukkan bagi pengelola untuk kembali menjadi modal usaha, sedangkan 30 persen menjadi bagian BUMDes.
Skema tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan usaha sehingga kegiatan budidaya tidak berhenti hanya pada satu kali panen, tetapi dapat terus dikembangkan sebagai kegiatan ekonomi produktif desa.
Pemdes Dorong Ketahanan Pangan Jadi Penggerak Ekonomi
Pj Kepala Desa Koto Tandun, Aly Yusuf, mengapresiasi proses budidaya hingga pelaksanaan panen ikan tersebut.
Ia berharap program ketahanan pangan tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Program ketahanan pangan ini kita harapkan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Aly Yusuf.
Panen tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa program ketahanan pangan di tingkat desa dapat diarahkan pada kegiatan produktif, dengan melibatkan masyarakat dan kelompok pemuda sebagai pengelola.
Dengan pola pengelolaan yang berkelanjutan, hasil usaha diharapkan dapat kembali diputar menjadi modal produksi, sehingga budidaya ikan di Desa Koto Tandun dapat terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.(***)
















