Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Prof. Septi Andryana: “Karier Akademik Harus Dirancang, Bukan Ditunggu”

555
×

Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Prof. Septi Andryana: “Karier Akademik Harus Dirancang, Bukan Ditunggu”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA,- Menjadi guru besar bukan semata-mata tentang mencapai puncak jenjang akademik. Bagi Prof. Dr. Septi Andryana, S.Kom, MMSI, jabatan profesor justru menandai dimulainya babak baru dengan tanggung jawab yang lebih besar dalam mengembangkan keilmuan, membangun generasi akademisi, dan memberikan kontribusi yang lebih luas kepada masyarakat.(11/8)

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Septi seusai dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Universitas Nasional dalam bidang Teknologi Informasi, dengan ranting ilmu/kepakaran Decision Support and Analytics, pada 5 Agustus 2026. Orasi ilmiah yang disampaikan berjudul: “Konstruksi Ekosistem Decision Support and Analytics dalam Penguatan Pemeringkatan Perguruan Tinggi Berdaya Saing Global”.

Pengukuhan tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan akademiknya sekaligus menjadi refleksi bahwa pencapaian guru besar membutuhkan perencanaan, ketekunan, serta strategi yang dilakukan secara konsisten.

Menurut Prof. Septi, jenjang karier akademik seorang dosen sebaiknya sudah dirancang sejak awal. Dosen perlu memiliki target dan proyeksi yang jelas, termasuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai setiap jenjang akademik hingga menjadi profesor.

“Karier akademik perlu direncanakan. Dosen harus punya target dan proyeksi, termasuk memperkirakan berapa tahun untuk mencapai setiap jenjang mulai dari jabatan pertama hingga menjadi guru besar,” ujar Prof. Septi.

Pengalaman tersebut tercermin dalam proses yang dijalaninya. Setelah berada pada jenjang Lektor Kepala dengan angka kredit 700, Prof. Septi mempersiapkan kenaikan menuju Guru Besar/Profesor dengan angka kredit 850 selama dua tahun.

Dalam periode tersebut, berbagai persyaratan dipersiapkan secara bertahap, sekaligus dilakukan pencermatan terhadap regulasi dan ketentuan yang berlaku. Persiapan yang dilakukan secara konsisten membuat proses tersebut berjalan lancar dan relatif cepat.

Menurut Prof. Septi, kelancaran tersebut tidak terlepas dari ketekunan dan kesungguhan dalam mempersiapkan setiap tahapan. Setiap kebutuhan dipetakan, prioritas ditentukan, dan pekerjaan diselesaikan secara bertahap sehingga tidak menumpuk menjelang proses pengajuan.

Cermati Regulasi, Manfaatkan Peluang

Selain perencanaan, Prof. Septi menilai pemahaman terhadap regulasi menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju guru besar. Persyaratan dan ketentuan pengajuan dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu sehingga dosen perlu terus mengikuti perkembangan kebijakan.

Ia mengingatkan agar dosen tidak menunggu sampai seluruh persyaratan terpenuhi baru mulai memahami aturan. Sebaliknya, regulasi harus dipelajari sejak awal agar strategi yang disusun dapat menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

“Jangan menunggu sampai merasa sudah lengkap baru mulai mempersiapkan pengajuan. Regulasi bisa berubah. Karena itu, kita harus memahami aturan yang berlaku dan mempersiapkan diri sejak awal,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan regulasi juga perlu dilihat sebagai peluang. Ketika terdapat kebijakan yang memberikan ruang bagi dosen untuk memenuhi persyaratan, peluang tersebut perlu dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan seluruh ketentuan yang berlaku.

“Kalau regulasi memberikan peluang, manfaatkan. Pelajari aturan dan ketentuannya, kemudian atur strategi dan buat skala prioritas. Kita harus tahu mana yang harus dikerjakan lebih dulu dan mana yang bisa dilakukan kemudian,” tutur Prof. Septi.

Ia menilai kemampuan menentukan prioritas sangat penting karena perjalanan menuju guru besar melibatkan berbagai komponen akademik. Dosen perlu mengalokasikan waktu dan energi pada aktivitas yang paling mendukung pengembangan kepakaran sekaligus pencapaian target akademiknya.

Karena itu, perjalanan menuju profesor bukan sekadar persoalan memenuhi persyaratan administratif. Di dalamnya terdapat proses membangun rekam jejak akademik melalui penelitian, publikasi ilmiah, pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kepakaran yang dilakukan secara berkelanjutan.

Profesor Bukan Garis Akhir

Bagi Prof. Septi, pengukuhan guru besar pada 5 Agustus 2026 bukanlah garis akhir dari perjalanan akademik. Sebaliknya, pengukuhan tersebut merupakan awal dari babak baru dengan tanggung jawab keilmuan yang lebih besar.

Status profesor, menurutnya, membawa konsekuensi untuk terus menghasilkan karya ilmiah, mengembangkan bidang keilmuan, membangun kolaborasi, membimbing generasi peneliti berikutnya, serta memastikan ilmu pengetahuan yang dikembangkan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pengukuhan ini adalah awal babak baru. Setelah menjadi guru besar, tanggung jawab akademiknya semakin besar. Ada tanggung jawab untuk terus mengembangkan keilmuan, menghasilkan karya yang bermanfaat, membangun kolaborasi, dan memberikan kontribusi yang lebih luas,” kata Prof. Septi.

Dalam bidang Teknologi Informasi, khususnya Decision Support and Analytics, pengembangan keilmuan memiliki relevansi yang semakin besar di tengah kebutuhan terhadap pengambilan keputusan yang didukung oleh data dan analitik.

Karena itu, pencapaian jabatan guru besar diharapkan tidak berhenti pada seremoni pengukuhan, tetapi diteruskan melalui penelitian, inovasi, kolaborasi, serta kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan berbagai persoalan di masyarakat.

Pesan untuk Peneliti Muda

Kepada para peneliti muda dan dosen yang tengah membangun karier akademik, Prof. Septi menyampaikan pesan yang sederhana namun menurutnya sangat fundamental: jujur, tekun, konsisten, dan berkomitmen.

“Jujur dalam menjaga integritas akademik, tekun dalam melakukan penelitian, konsisten membangun kepakaran, serta berkomitmen untuk terus belajar, berkolaborasi, dan meningkatkan kualitas penelitian.,” pesan Prof. Septi.

Harapan Prof. Septi setelah menjadi guru besar, semoga makin banyak lagi guru besar yang akan lahir, khususnya dari Universitas Nasional, serta peneliti-peneliti muda yang unggul dan berdampak bagi masyarakat.***

Editor : ERICK

Example 300250
Editor: Redaksi
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *