Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

BEM Kristiani Seluruh Indonesia Gelar Rakornas dan Seminar Nasional, Dorong Kepemimpinan Mahasiswa yang Berintegritas dan Berdampak bagi Negeri

9
×

BEM Kristiani Seluruh Indonesia Gelar Rakornas dan Seminar Nasional, Dorong Kepemimpinan Mahasiswa yang Berintegritas dan Berdampak bagi Negeri

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, 20 Agustus 2026 — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kristiani Seluruh Indonesia menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Seminar Nasional di Hotel Mega Proklamasi, Kamis (20/8/2026). Kegiatan yang mengangkat tema “Membangun Kepemimpinan Mahasiswa Kristiani yang Berintegritas, Nasionalis, dan Berdampak bagi Negeri” tersebut diikuti oleh perwakilan BEM Kristiani dari berbagai daerah serta mahasiswa dan peserta undangan.

Seminar Nasional yang menjadi bagian utama rangkaian kegiatan dihadiri kurang lebih 200 mahasiswa. Forum ini menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan perspektif dari berbagai organisasi mahasiswa dalam membicarakan masa depan kepemimpinan generasi muda serta kontribusi mahasiswa bagi bangsa dan negara.

Kegiatan dimulai pukul 13.30 WIB dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana pembukaan berlangsung penuh semangat kebangsaan dan kekeluargaan.

Koordinator Pusat BEM Kristiani Seluruh Indonesia, Charles, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Rakornas dan Seminar Nasional bukan sekadar forum seremonial maupun diskusi, melainkan momentum untuk melahirkan gagasan dan gerakan yang memberikan dampak nyata.

Ia menekankan pentingnya mahasiswa mengambil peran strategis dalam kehidupan kebangsaan dengan mengedepankan integritas, kepedulian sosial, nasionalisme, serta keberanian untuk menghadirkan perubahan positif di tengah masyarakat.

Bahas Kepemimpinan Lintas Iman dan Kolaborasi Mahasiswa

Seminar Nasional menghadirkan tiga narasumber dari berbagai organisasi mahasiswa keagamaan dan kebangsaan. Narasumber pertama, Miftahul Rizki, Korpus DEMA Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri se-Indonesia, menyampaikan materi bertajuk “Kepemimpinan Lintas Iman dan Kolaborasi Mahasiswa.”

Dalam pemaparannya, Miftahul menegaskan bahwa kolaborasi lintas iman perlu terus dirawat sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan bangsa. Perbedaan agama, identitas, organisasi, maupun latar belakang tidak semestinya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk bekerja sama.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang kolaborasi yang mengutamakan kepentingan bangsa dibandingkan ego sektoral masing-masing kelompok.

Ia juga menekankan pentingnya self-leadership atau kemampuan memimpin diri sendiri. Seorang pemimpin, kata dia, harus terlebih dahulu mampu mengelola diri, mengendalikan sikap, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab sebelum mampu memimpin orang lain maupun sebuah organisasi.

Mahasiswa Didorong Melek Politik dan Peduli Persoalan Bangsa

Narasumber kedua, Yogi Syahputra, Koorpresnas BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah, membawakan materi “Kepemimpinan Mahasiswa untuk Kemajuan Bangsa.”

Yogi menekankan bahwa mahasiswa harus memiliki kesadaran nasional dan tidak boleh terlepas dari berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Mahasiswa juga didorong untuk memiliki perhatian terhadap penguatan ekonomi kerakyatan, memahami dinamika politik dan kebijakan publik, serta memiliki kesadaran terhadap proses demokrasi.

Menurutnya, gagasan mahasiswa tidak boleh berhenti pada ruang diskusi. Mahasiswa harus mampu melakukan akselerasi gerakan sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki dapat diolah menjadi kekuatan untuk menciptakan perubahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Integritas dan Nilai Keagamaan sebagai Fondasi Kepemimpinan

Sementara itu, narasumber ketiga, Achmad Baha’ur Rifqi, Presnas BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama, menyampaikan materi “Kepemimpinan Berbasis Nilai Keagamaan.”

Ia menekankan bahwa integritas merupakan salah satu fondasi utama dalam kepemimpinan. Integritas tercermin dari konsistensi antara nilai yang diyakini, perkataan yang disampaikan, dan tindakan yang dilakukan.

Dalam konteks kehidupan kebangsaan Indonesia yang penuh keberagaman, ia juga menyoroti pentingnya toleransi. Perbedaan agama, budaya, suku, dan latar belakang tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, tetapi dapat menjadi kekuatan untuk membangun persatuan dan kolaborasi.

Nilai-nilai keagamaan, lanjutnya, harus mampu diterjemahkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam kehidupan organisasi, akademik, sosial, dan kebangsaan.

Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan

Rangkaian diskusi dalam Seminar Nasional menegaskan bahwa kepemimpinan mahasiswa tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan, posisi, popularitas, maupun kekuasaan. Kepemimpinan merupakan proses membangun keteladanan, tanggung jawab, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan memberikan kontribusi bagi kepentingan yang lebih besar.

Indonesia membutuhkan generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, keberanian menghadapi tekanan, nasionalisme, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat.

Dalam konteks mahasiswa Kristiani, nilai-nilai iman juga didorong untuk tidak berhenti di ruang ibadah dan persekutuan. Nilai Kristiani perlu diwujudkan dalam kehidupan akademik, sosial, organisasi, serta kehidupan kebangsaan.

Kepemimpinan mahasiswa Kristiani diharapkan mampu menjadi jembatan antara iman dan ilmu pengetahuan, spiritualitas dan nasionalisme, serta idealisme dan tindakan nyata.

Forum juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas iman dan lintas organisasi. Perbedaan dipandang bukan sebagai alasan untuk membangun sekat, tetapi sebagai kekuatan dalam menghadirkan kerja sama yang berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara.

“Apakah Kita Siap Menghadirkan Perubahan bagi Negeri?”

Diskusi ditutup dengan sebuah pertanyaan reflektif yang menjadi pesan penting bagi seluruh peserta:

“Apakah kita siap menjadi generasi yang tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi benar-benar menghadirkan perubahan bagi negeri?”

Pertanyaan tersebut menjadi refleksi bersama sekaligus ajakan kepada mahasiswa untuk menjadikan momentum Rakornas dan Seminar Nasional sebagai titik awal dalam memperkuat komitmen, kolaborasi, dan gerakan mahasiswa yang lebih nyata.

Seminar Nasional dan diskusi publik kemudian ditutup pada pukul 15.00 WIB dan dilanjutkan dengan foto bersama yang diikuti kurang lebih 200 mahasiswa.

Dilanjutkan Konsolidasi Internal BEM Kristiani Seluruh Indonesia

Setelah Seminar Nasional, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan agenda internal BEM Kristiani Seluruh Indonesia sebagai bagian penting dari pelaksanaan Rakornas.

Agenda internal diarahkan untuk memperkuat konsolidasi organisasi, koordinasi antar-BEM Kristiani, evaluasi program, penyamaan persepsi antarpengurus, serta penyusunan langkah strategis organisasi ke depan.

Forum tersebut juga menjadi ruang bagi para perwakilan untuk menyampaikan pandangan, aspirasi, gagasan, dan rekomendasi terkait keberlanjutan organisasi serta kontribusi mahasiswa Kristiani bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Pelaksanaan Rakornas dan Seminar Nasional BEM Kristiani Seluruh Indonesia menjadi momentum strategis untuk memperkuat karakter kepemimpinan mahasiswa yang berintegritas, nasionalis, toleran, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak nyata.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan kebangsaan untuk menjaga persatuan, merawat keberagaman, serta turut mengambil bagian dalam menjawab berbagai persoalan bangsa.

Dengan semangat integritas, kolaborasi lintas iman, toleransi, nasionalisme, dan keberpihakan kepada masyarakat, BEM Kristiani Seluruh Indonesia berkomitmen mendorong lahirnya gerakan mahasiswa yang konstruktif dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *